Senin, 01 Juni 2015

PS: I LOVE YOU - THE STORY ABOUT MOVE ON

Judul: PS: I Love You
Pengarang: Cecelia Ahern
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah:  Monica Dwi Chresnayani
Desain dan ilustrasi sampul: Marcel A.W. 
Jumlah halaman: 632 halaman
Cetakan kedua, Februari 2007
ISBN: 978-979-22-1537-3
Segmen: Chicklit, drama
Genre: Dewasa
Rate: ★★★

Sayangku Holly,


Aku tidak tahu di mana kau berada saat ini atau kapan tepatnya kau membaca surat ini. Aku hanya berharap mudah-mudahan surat ini sampai di tanganmu saat kau dalam keadaan sehat, tak kurang suatu apa. Belum lama ini kau berbisik di telingaku bahwa kau tidak bisa menjalani hidup sendiri. Kau bisa melakukannya, Holly.

Kau tabah dan berani, jadi kau pasti bisa melewati masa-masa sulit ini. Kita pernah mengarungi saat-saat yang indah bersama, dan kau membuat hidupku... kau membuat hidupku berarti. Aku tidak memiliki penyesalan apa pun. Tapi aku hanya sebuah babak dalam hidupmu, akan ada banyak babak baru menantimu di masa yang akan datang. Ingatlah semua kenangan manis kita, tapi kumohon, jangan takut menciptakan kenangan-kenangan baru.

Terima kasih karena telah memberiku kehormatan dengan menjadi istriku. Untuk semua yang telah kaulakukan untukku, selamanya aku akan selalu mengucap syukur. Kapan pun kau membutuhkanku, ketahuilah bahwa aku selalu mendampingimu. 

Mencintaimu selamanya,
Suami dan sahabatmu, 
Gerry

PS, Aku pernah berjanji akan membuatkan daftar untukmu, dan inilah daftar itu. Setiap amplop harus dibuka tepat pada waktu yang tertera di bagian depan dan apa pun yang kutulis di dalamnya, harus ditaati. Dan ingat, aku mengawasimu, jadi aku pasti tahu...


Saya tidak pernah mengira saya ternyata akan menyukai buku ini pada akhirya. Mengapa saya bilang begitu? Karena cukup lama saya menyelesaikan membaca buku ini. Niat awal, saya mau membaca buku ini untuk posbar BBI bulan Maret yang temanya adaptasi buku atau film, tapi karena satu dan lain hal, saya mengganti buku yang sudah 170 halaman lebih saya baca ini dengan buku lain yang lebih tipis untuk posbar Maret. Dan setelah itu buku ini pun cukup lama saya tinggalkan karena saya memilih membaca buku-buku lain. Yang pasti pertama-tama saya membaca buku ini, saya belum mendapat feelnya dan saya cenderung merasa bosan dan sangat standar.

Bulan Mei ini, saya melihat rak gutrits saya dan buku ini masih dalam rak currently reading, karena itu saya memutuskan untuk menyelesaikan membaca buku ini karena saya merasa mempunyai PR bila ada buku dalam rak currently reading masih belum selesai saya baca meski sudah lebih dari sebulan.

Surprise, surprise, saya yang awalnya merasa bosan dan malas membaca buku ini (dan bikin saya jadi lelet baca bukunya) ternyata dikarenakan mood membaca saya hilang selama akhir February - pertengahan Mei dan justru saat melanjutkan baca buku ini, mood membaca saya malah kembali dan selanjutnya saya bisa menikmati ceritanya bahkan ada adegan sederhana yang membuat saya menangis.

Kayanya, saya kebanyakan curhat yah. Saatnya balik ke topik mengenai review buku ini.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk berduka?

Ini adalah sebuah pertanyaannya yang jawabannya relatif alias berbeda-beda tergantung individu. Ada yang cepat, ada yang sangat lama, mungkin jawabnya tergantung seberapa dekat hubungan kita dengan orang tersebut. Yang pasti setiap orang punya cara tersendiri dalam mengatasi duka dan kehilangan dalam hidup mereka.

Tema move on sendiri sebenarnya sangat standar dan gaya bahasa di novel ini pun juga ringan dan sederhana tapi justru karena dikemas secara sederhana dengan gaya bahasa khas chiclit saya langsung bisa memahaminya dengan mudah.

Jadi yang saya suka dari novel ini adalah:
1. Suasana kekeluargaannya. Irlandia adalah salah satu negara Eropa yang suasana kekeluargaannya masih kental. Meski Holly sering tidak akur dengan saudara/saudarinya, tapi merekalah yang paling bisa diandalkan saat kesulitan dan begitu juga sebaliknya.
2. Suasana cozy Irlandia. Saat membicarakan Irlandia, pasti ada adegan di pub atau bar di mana teman dan keluarga ngumpul bareng.
3. Cerita yang sweet namun tidak berlebihan. Saya suka bagaimana penulis mengeksekusi endingnya tanpa memaksakan ending happily ever after. (Saya sudah sempat mikir Holly bakal jadian sama Daniel).
Tapi di sisi lain, dia wanita dengan berjuta kenangan indah yang membahagiakan, yang tahu bagaimana rasanya memiliki cinta sejati, dan yang siap menapaki pengalaman lain dalam hidup, jatuh cinta lagi, dan merangkai kenangan baru yang sama indahnya. Entah itu akan terjadi sepuluh bulan atau sepuluh tahun lagi, Holly akan tetap mematuhi pesan Gerry yang terakhir. Apapun yang menantinya di masa depan, Holly tahu dia harus membuka hati dan mengikuti kata hatinya. 
Sementara menunggu saat itu tiba, dia akan tetap menjalani hidup.  
Ada banyak kutipan atau adegan yang saya suka dan tandai dengan post-it dalam buku ini. Namun ini salah satu yang paling saya suka:
"Menemukan orang yang kaucintai dan yang mencintaimu sungguh merupakan perasaan yang sangat menakjubkan. Tapi menemukan belahan jiwa yang sejati jauh lebih menakjubkan. Belahan jiwa adalah orang yang memahamimu lebih dari orang lain, yang mencintaimu lebih dari orang lain, dan akan mendampingimu selamanya, apa pun yang terjadi. Kata orang, tidak ada yang abadi, tapi aku sangat yakin, bagi sebagian orang cinta tetap bertahan bahkan setelah kita tiada. 
Jadi ingat, ada salah satu isi twits yang pernah lewat di lini masa twitter saya, bahwa seseorang yang berjodoh belum tentu soul mate. Contoh, orang tua kita berjodoh tapi apabila kita merasa hubungan mereka kurang harmonis berarti mereka hanya sekedar jodoh dan bukan soul mate.  Kita boleh tidak memercayai The One tapi percayalah setiap manusia memiliki soul mate. Hanya saja ada yang beruntung dan langsung menemukannya dalam kehidupan mereka, ada yang sudah menemukannya tapi karena situasi dan kondisi hanya menjadi suatu babak dalam kehidupan mereka (seperti Holly dan Gerry) dan ada yang belum beruntung untuk menemukannya karena mereka tidak berjodoh dalam kehidupan mereka.

Empat bintang saya sematkan untuk buku ini karena Cecelia Ahern sukses membuat saya menangis terharu dalam salah satu adegannya (padahal saya ini tipe yang sarkartis atau sinis kalau menyangkut romance, tapi saya rasa ini juga bukan sekedar romance). Juga untuk sang pengarang sendiri, Cecelia Ahern yang sukses membuat suatu kisah cinta yang begitu dewasa di umurnya yang baru 21 tahun saat buku ini pertama kali terbit. Menurut saya pribadi, meski jalinan kisah dalam buku ini ada kalanya tidak realistis tapi yang pasti buku ini lebih dari sekedar romance yang manis belaka karena buku ini juga sebuah cerita cinta dan perjalanan hidup. Kalau saya sewaktu 21 tahun yang jelas masih mikir cerita hanya happy-happy saja.

Reviewed by:
Lucky Number No 15: Chunky Brick
NARC 2015: 101 genre - chickit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...