Selasa, 30 Juni 2015

KEI: KUTEMUKAN CINTA DI TENGAH PERANG

Judul buku: Kei
Pengarang: Erni Aladjai
Penerbit: Gagas Media
Editor: Jia Effendi
Proofreader: Mita M. Supardi
Jumlah halaman: 250 halaman\
Cetakan 1, Agustus 2013
ISBN: 979-780-649-9
Segmen: Dewasa
Genre: Historical fiction, romance
Rate: ★★★
Special Note: Thanks to Ren for the GA.

"Tuhan dan agama tak pernah mengkhianati pemeluknya. Manusialah yang mengkhianati Tuhan dan agamanya."


Di tengah-tengah kerusuhan akibat perang SARA yang berkecamuk di Ambon dan merambah hingga ke kepulauan Kei. Namira dan Sala menumukan cinta saat keduanya berada di tempat pengungsian. 

Di tengah-tengah kesedihan karena rusuh yang mengambil nyawa dari semua orang yang mereka cintai, Namira dan Sala saling melindungi dan saling setia meski agama mereka berbeda karena mereka berpegangan pada hukum adat Kei bahwa semua masyarakat Kei bersaudara dan hukum adat adalah acuan pertama setelah agama yang datang belakangan. 

Namun cinta saja tidak cukup bagi keduanya untuk bisa berbahagia karena perang dan kerusuhan membuat keduanya terpisah...

My thought


Sempat terpikir mau skip posbar bulan ini karena temanya Indonesiana dan saya pikir saya tidak ada buku yang bertema Indonesia, ternyata setelah saya cek, saya punya buku Kei ini yang saya menangkan dari GA yang pernah diadakan Ren's Little Corner. Kebetulan bukunya tipis, hanya 250 halaman, jadi tak perlu merasa beban buku bantal.

Buku ini terbagi 2 bagian, bagian pertama saat Sala dan Namira bertemu dan bagian kedua, Pulang, yang mengisahkan usaha mereka berdua untuk kembali pulang ke Kei. Untuk saya pribadi, saya lebih suka bagian kedua karena ceritanya lebih berisi.

Pertama-tama saya pikir buku ini tentang kisah cinta beda agama (topik yang sensitif) tapi setelah saya baca ternyata bukan. Memang Sala dan Namira berbeda agama. Sala adalah seorang pemuda Kristen dan Namira adalah gadis muslim, namun buku ini tidak menceritakan sama sekali mengenai sisi cinta beda agamanya, namun lebih ke akibat perang dan kerusuhan yang menghancurkan kepulauan Kei. Saya rasa untuk menghindari topik SARA yang sensitif, buku ini lebih membahas mengenai adat-istiadat masyarakat Kei dan dampak menyedihkan akibat rusuh. 

Biasanya saya suka historical fiction, tapi entah mengapa saya kurang dapat feel saat membaca buku ini. Baik romance maupun kisah keseluruhannya. Meski Namira dan Sala adalah karakter yang cukup likeable atau gampang disukai pembaca, namun saya merasa mereka terlalu one dimensional. Mungkin saya memang tipikal orang ribet yang menyukai karakter yang kompleks. Selain itu saya merasa kisah cinta Sala dan Namira terlalu instant dan saya tak pernah merasakan feel romance yang tokohnya jatuh cinta dengan cepat.  

Sedangkan untuk sisi sejarah kelam perang SARA di Maluku, meski sering dengar, tapi saya akui saya kurang memahami atau mengikuti berita seputar kerusuhan Ambon, cuma ingat dulu di sekolah sempat ada murid pindahan dari Ambon sewaktu saya SMU karena Ambon rusuh (ketahuan deh umur saya).

Bukunya sendiri lebih fokus ke pesan moral atau pesan kemanusiaan mengenai dampak perang yang saya rasa kita semua sudah tahu. Bahwa tidak ada glory dalam perang, yang ada hanya kematian, kengerian, kesedihan dan penderitaan. Di satu sisi saya merasa buku ini terlalu menggurui dan hanya fokus di dampak kerusuhan atau perang, padahal saya lebih pengen tahu mengapa masyarakat Indonesia gampang sekali diprovokasi dan disusupi oleh kelompok-kelompok makar yang ingin berbuat terror? Dan sepertinya dari dulu hingga sekarang, masalah SARA yang paling gampang membuat masyarakat kita diadu domba. 

Namun satu yang saya suka dari prosa Erni Aladjai adalah diksinya yang indah dan kata-katanya puitis namun tidak bertele-tele. 

Untuk Indonesianya sendiri atau setting Indonesia. Buku ini lumayan detil menjelaskan mengenai keseharian masyarakat Kei. Sama seperti umumnya masyarakat pulau atau maritim, mata pencaharian utama masyarakat Kei adalah nelayan dan menu makanannya semua rata-rata menggunakan ikan. Begitupula dengan selipan-selipan dalam bahasa Malulu/Ambon/Kei yang semakin menambah kedaerahan buku ini. 

Beberapa adat isitiadat yang ada dalam buku misal:
  • Tutup Sasi. Upacara adat yang mengatur pengambilan sumber daya alam di pulau. Hukum sasi melarang orang-orang mengambil sumber daya alam dalam rentang waktu enam bulan. Hukum adat juga melarang setiap orang menggangu ekosistem laut. Tutup Sasi memberi waktu mahluk hidup untuk tumbuh, bereproduksi sekaligus melindungi ekosistem. Semua pulau Kei mempunyai ritual Sasi sebagai bentuk penghormatan pada laut. 
  • Larwul Ngabal. Hukum adat Kei. Ketika hukum itu dibacakan, orang-orang disekap bisu dan mengeluarkan air mata lantaran sejarah hukum itu begitu pedih. 
  • Ken sa faak adalah bahasa Kei yang berarti "kita semua salah". 
Dan masih banyak lainnya, cerita ini juga makin menguatkan karakter asli masyarakat Kei yang cinta damai dan sangat menghormati perempuan. 

Untuk kepulauan Kei sendiri mungkin tergolong pulau yang kurang populer di Indonesia tapi biasanya yang kurang populer dan sulit dijangkau itu pantainya cantik banget. Dan Ambon, Maluku itu terkenal sebagai salah satu tempat yang mempunyai pantai-pantai tercantik di Indonesia dengan pasir seputih bedak dan laut biru jernih (ini kenapa jadi bahas traveling ya, mungkin tanda saya butuh piknik). 



Ada satu kutipan yang saya suka yang mungkin banyak digunakan bagi mereka pembela cinta antar SARA maupun gender:
"Yang mengatur kasih sayang itu Tuhan. Jadi, kita tak bisa memilih pada siapa hati diberikan. Hati selalu punya pilihan sendiri." -hal 141
Apakah #LoveWins? Untuk saya pribadi, cinta itu penuh resiko, perjuangan dan pengorbanan, bukan masalah menang atau kalah. Hehehe.

Reviewed by:
NARC: Support Local Author
Lucky No. 15 RC: Freebies Time



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...