Jumat, 15 Mei 2015

THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS: STORY ABOUT FRIENDSHIP IN THE MIDDLE OF WAR

Judul: The Boy In The Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis)
Pengarang: John Boyne
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Rosemary Kesauli
Jumlah halaman: 240 halaman
Cetakan 1, Juli 2007
ISBN: 978-979-22-2982-0
Segmen: Dewasa
Genre: Historical fiction
Rate: ★★★½
Special Note: Thanks to Indah for lending me your book :)


Sebelum pindah ke tempat itu, tempat yang bernama "out-with", kehidupan Bruno sangatlah nyaman dan menyenangkan. Ia tinggal dalam rumah besar bertingkat 5 di Berlin, mempunyai 3 orang sahabat yang selalu menemaninya bermain, menikmati suasana kota Berlin yang hangat dan penuh lalu lalang para warga kotanya. 

Namun suatu hari bruno mendapati pelayannya, Maria mengepak barang-barangnya dan berkata bahwa Bruno sekeluarga akan pindah ke "out-with". Tentu saja Bruno tidak suka akan hal itu, karena berarti ia harus meninggalkan teman-temannya dan kehidupan nyamannya di Berlin. Apalagi setelah tiba di "out-with", Bruno mendapati suasana di rumah barunya sangat berbeda dengan rumah lamanya di Berlin. 

Rumah tersebut tidaklah sebesar rumah di Berlin dan yang paling tidak ia suka, tidak ada anak-anak di "out-with" sehingga Bruno tidak mempunyai teman di sana. Selama berbulan-bulan, Bruno menghabiskan waktu dengan bermain sendirian, ia sangat kesepian, hingga suatu hari saat sedang menjelajah, ia menemukan seorang anak laki-laki seumuran dirinya yang mengenakan piama bergaris-garis yang berada di balik pagar kawat berduri. Tapi berbeda dengan Bruno yang sehat, anak laki-laki ini sangat kurus, berkulit pucat dan mempunyai tatapan mata yang sedih. 

Dengan segera Bruno langsung akrab dengan Smuel, anak laki-laki dalam balutan piama tersebut. Meski dihalangi pagar, Bruno dan Smuel selalu rutin mengobrol. Hingga datanglah peristiwa itu. 

Opini

Saya sudah lama mendengar cerita mengenai buku ini dan cerita tentang perang selalu menyedihkan. Buku ini pun tak terkecuali dan saya dengar filmnya lebih sedih. Namun di satu sisi lain juga membuat saya bersyukur bahwa saya hidup di masa yang sudah damai. Cerita dalam buku ini mengambil setting perang dunia II yang mempunyai salah satu sejarah paling kelam dalam tragedi kemanusiaan, yaitu Auschwitz. Sebuah tempat yang yang juga dikenal sebagai kamp konsentrasi tempat sejumlah orang Yahudi dipaksa bekerja, dijadikan uji coba untuk senjata biologis dan dimusnahkan oleh pemerintah Nazi Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler.

Meski buku ini mempunyai tokoh anak kecil dengan gaya bahasa dan dialog sederhana khas buku anak, saya paham mengapa buku ini dilabeli novel dewasa. Karena kisah di dalamnya butuh pemahaman orang dewasa, dan banyak dialog-dialog sederhana yang maknanya dalam. 

Sepertinya saya lagi tidak bisa berpikir banyak untuk menuangkan kata-kata dalam review ini. Buku ini mempunyai narasi sederhana dan dialog di dalamnya pun to the point. Bruno sebagai seorang anak lelaki meski terkadang terlihat menyebalkan namun Bruno mempunyai hati yang baik. Ia merasa tidak nyaman saat ada orang lain yang berlaku kejam di rumahnya, meski ia tidak melakukan sesuatu untuk melawannya karena ia hanya bocah. 

Dengan sudut pandang bocah 9 tahun yang justru bukan korban utama, cerita ini terasa polos dan naif, tapi saya rasa di sanalah letak keistimewaannya. Karena dalam dunia anak-anak segala sesuatunya terasa murni tanpa ada doktrin dan ideologi politik yang membuat kehidupan menjadi rumit. Namun di sisi lain saya juga masih merasa ada yang kurang dari buku ini, apakah karakter Bruno yang luar biasa polos dan naif justru menjadi kurang realistis (saya paham, dia masih anak-anak)  tapi jadinya kurang believable. Seharusnya Bruno lebih bisa mengambil kesimpulan kasar mengenai apa yang terjadi di tempat itu, apalagi Smuel sesungguhnya sudah memberitahukan bahwa ia ditangkap oleh para serdadu, juga bagaimana Letnan Kotler memperlakukan Pavel, si pelayan dengan kejam. Atau mungkin saja Bruno tahu tapi ia menyangkalnya? 

Mungkin cerita ini akan lebih baik seandainya bukunya lebih tebal, sehingga penulis bisa memberi penjelasan lebih banyak, mengingat dibutuhkan pemahaman sejarah dunia mengenai perang dunia II bila ingin membaca buku ini, karena apa bila tidak mengetahui sejarah Auschwitz, pembaca pasti akan meraba-raba mengenai peristiwa yang dialami Smuel, karena penulis tidak banyak memberitahukan informasi mengenai hal tersebut. 

Reviewed by:

New Authors Reading Challenge: Historical Fiction
Lucky Number 15 RC: Something Borrowed

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...