Minggu, 01 Februari 2015

ALLEGIANT: THE MOST ANTICLIMAX OF THE TRILOGY

Judul buku: Allegiant (Divergent #3)
Pengarang: Veronica Roth
Penerbit: Mizan fantasy (Mizan group)
Penerjemah: Nur Aini dan Indira Brianti Asni
Editor: Esti Budihabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 496 halaman
ISBN: 978-979-433-837-7
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia, action
Harga: Rp 65.000
Rate:

Review ini mengandung spoiler. 

Sejujurnya, saya sangat malas bikin review untuk Allegiant. Tapi yah berhubung, buku 1 dan 2 ada reviewnya, rasanya tanggung kalau yang ke-3 tidak ada, jadi sekalian saja saya review supaya lengkap.

Saya beneran bingung sama cerita di Allegiant alias saya tidak tahu ceritanya itu sebenarnya tentang apa sih? Yang saya tahu ceritanya muter-muter, dari perang faksi vs pemberontak terus pemberontak membentuk Allegiant terus berubah ke perang pemberontak vs Biro/pemerintah dan balik lagi jadi perang factionless vs Allegiant. 

Baru kali ini saya baca buku ceritanya tidak terlalu saya ingat, padahal belum 1 jam sejak saya selesai baca, entah apa karena plot dan storytelling-nya gajebo-gak jelas-dipanjang-panjangin atau antiklimaks. Maaf untuk para Initiates kalau saya kasar dan blak-blak-an. Tapi sepanjang saya baca Allegiant, itu bawaannya mengantuk dan bosan terus, sempat mau DNF-Did Not Finished tapi saya paksa supaya tetap baca, padahal buku ini termasuk yang ceritanya action-oriented, tapi karena plotnya muter-muter dan terkesan dipanjang-panjangin untuk beberapa bagian saya membaca fast forward karena saya hanya ingin menyelesaikannya. Sudah plot-nya dipanjang-panjangin, banyak plot hole pula yang kadarnya sudah lewat batas toleransi saya. Untuk yang penasaran cerita Allegiant tapi malas membacanya, saya akan coba ingat-ingat ceritanya.

Jadi setelah ending Insurgent, Tris dkk tahu bahwa masih ada dunia di luar kota Chicago yang selama ini mereka kenal. (plot hole 1, rasanya aneh kalau Tris tidak pernah berpikir sama sekali soal itu, apalagi dia Divergent). Hanya saja Evelyn alias ibu-nya Four, yang telah menghapus sistem faksi tidak setuju kalau mereka sampai keluar kota Chicago karena si Evelyn ini tidak rela kalau sampai para factionless tahu dan itu akan bikin dia gagal berkuasa sebagai pemimpin baru setelah sistem faksi ditiadakan. 

Beberapa orang yang terbiasa dengan sistem faksi, jelas tidak setuju dan diam-diam membentuk kelompok yang bernama Allegiant, yang berarti mereka yang setia dengan sistem faksi. Kelompok ini merekrut Tris dkk untuk melihat dunia di luar kota Chicago. Dan akhirnya Tris dkk berhasil keluar perbatasan Chicago (plot hole 2: Apa Johanna Reyes tidak penasaran seperti apa di luar perbatasan? Kecuali kalau dia memang juga bekerja untuk biro, tapi tidak ada penjelasan). 

Di luar Chicago, Tris dkk baru sadar betapa luasnya dunia itu dan masih ada kota lain selain Chicago. Mereka dibawa ke suatu Biro Kesejahteraan Genetik, ini sejenis kantor atau tempat penelitian gen. Di tempat ini mereka baru tahu kalau selama ini mereka adalah eksperimen pemerintah Amerika Serikat. Jadi para ilmuwan mencoba membuat generasi manusia yang sempurna dengan menghilangkan gen-gen yang menyebabkan perilaku negatif seperti pengecut, pembohong, bodoh, dll. Tapi sayang, eksperimen mereka gagal, karena manusia-manusia yang gen-nya "diubah" ini meski membuat dominan beberapa sifat tapi juga menghilangkan beberapa sifat baik manusia dan manusia yang gen-nya sudah "diubah" ini disebut RG alias rusak secara genetis, sementara manusia yang gen-nya belum "diubah" disebut MG alias murni secara genetis dan suatu hari RG menyerang MG dan pemerintah dan meletuslah Perang Kemurnian yang membuat nyaris seluruh Amerika luluh lantak.

Para ilmuwan mencoba untuk memperbaiki para RG dengan menyetel ulang hidup mereka melalui serum memori dan menempatkan para RG ini di beberapa kota di AS, salah satunya Chicago dan menerapkan sistem faksi untuk mengontrol perilaku mereka, di mana setelah beberapa keturunan akan lahir generasi-generasi baru dari RG yang gen-nya telah pulih seperti MG. Dan nama generasi baru dari kelahiran RG yang gen-nya telah pulih disebut Divergent. 

Jadi itulah alasan mengapa saya merasa Divergent itu tidak ada ubahnya dengan manusia pada umumnya yang berperilaku kompleks. Karena mereka memang manusia biasa. #pointless.

Dan yah seterusnya githu deh, pengarang seolah ingin membicarakan teori perilaku manusia dan menyelipkan beberapa filosofinya.  Nah sekarang saya mau menulis surat terbuka untuk Veronica Roth. 

Dear Ms. Veronica Roth / Author of Divergent trilogy,

Mohon bila ingin membuat tema dystopia, ambillah tema dari realita sosial yang terjadi dalam masyarakat, supaya world-building dystopia Anda terasa lebih nyata, contohnya The Hunger Games atau Unwind. Karena jika Anda terinspirasi dari adegan topi seleksi di Hogwarts, membaca Divergent trilogy lebih seperti membaca fanfic Harry Potter, mulai dari serum kejujuran (veritaserum), serum memori (jampi memori), lebih banyak menghabiskan waktu di Asrama daripada rumah dan bahkan David yang masih suka sama almarhum ibu Tris mengingatkan saya dengan Snape yang tetap cinta Lily seumur hidupnya, tapi kalau Snape bikin banyak orang orang jatuh hati, David bikin orang ilfil dan kalau ini sebuah fanfic, ini juga bukan fanfic yang bagus, karena Anda tampak jelas tidak menguasai tema dystopia yang Anda buat sendiri. Bahkan Anda sendiri menuliskan salah satu adegannya dalam buku, kalau MG dan RG sama saja, sama-sama bisa melakukan tindak kejahatan dan menyebabkan perang. Lha jadi intinya pointless donk karena Anda hanya membuat konsep Dystopia yang "maksa" supaya bisa ada adegan melompat dari kereta api yang berjalan yang menurut Anda keren atau bermain flying fox karena menurut Anda itu berani. 

Similar multiple 1st person POV

Selain itu, saya tidak suka multiple 1st person POV alias memakai narasi sudut pandang orang pertama yang lebih dari 1. Karena multiple 1st person POV ini termasuk sulit eksekusinya, apalagi kalau karakternya mirip satu sama lain, seperti Tris dan Four yang walau menurut Anda saling bertolak belakang, justru menurut saya sangat mirip, karena mereka berdua sama-sama berlatar belakang Dauntless pindahan Abnegation, sama-sama keras kepala, sama-sama suka bertindak pakai emosi, sama-sama sering merasa insecure, sama-sama labil, sama-sama kick-ass dalam hal aksi. Sama-sama menyebalkan menurut saya. Karena mereka punya banyak kemiripan tersebut, saya seperti membaca narasi 1 orang daripada 2 orang, dan sering saya salah kira narasi Tris adalah Four dan sebaliknya. Kalau Anda butuh tambahan referensi multiple 1st person POV yang bagus, coba baca The Perfect Chemistry, Flipped atau Gone Girl.  Dan para penulis 3 judul yang saya sebutkan itu sukses mengeksekusi sudut pandang para karakter utama mereka karena 2 karakter utamanya saling bertolak belakang baik dari segi sifat maupun latar belakang. 

Selain itu mengenai Uriah, saya tidak pernah merasakan karakternya yang lucu selain karena Anda hanya sekedar memberitahu Uriah itu lucu tanpa benar-benar menunjukkannya. Dan saya sama sekali tidak peduli dengan kematian Uriah karena saya tetap merasakan karakternya sebagai pelengkap saja, karena Anda memberi terlalu banyak porsi pada Tris dan Four. 

Ending

Sebenarnya, saya tidak terlalu peduli akan endingnya. Baik itu sad atau happy, saya oke saja selama memang pantas. Tapi saya tidak suka ending yang didramatisir supaya menjadi berkesan. Saya tidak peduli, Tris berakhir mati atau hidup selama alasannya wajar. Dan saya tidak tahu apakah Anda ingin membuat ending die as a hero, kalau iya, sayang jadinya maksa. Kalau Anda butuh ending macam itu, Anda bisa membaca yang epik macam Ptolemy Gate dari trilogy Bartimaeus sebagai referensi. Atau Anda hanya ingin membuat adegan depresi ala Katniss di Mockingjay saat adiknya tewas, hanya saja tokohnya di sini adalah Four. Yah, sayangnya karakter Four di Allegiant ini kurang simpatik, jadinya saya tidak peduli, kenapa tidak membuat Four saja yang mati? Saya tidak suka Tris dengan kecenderungan pengorbanannya sejak Insurgent, kesannya karakter Tris itu martir. Selain itu, di ending buku ini tidak sungguh-sungguh pecah perang karena sebelum perang sudah keburu damai. Dan itu semakin menambah kesan konyol kematian Tris karena tertembak oleh seseorang saat ingin mengambil serum. Sepertinya sering sekali Tris tertembak.

Reviewed by:
 
Lucky No. 15 RC: One Word Only 

25 komentar:

  1. hallo, saya gak baca bukunya, tp penasaran kelanjutan akhir cerita allegiant ini, keren bgt review nya...

    BalasHapus
  2. Hai.
    Saya gak baca bukunya.
    Tapi saya kadung kebaca review ini dan mengetahui kalau Tris tewas.
    Saya akan tetap berpura2 kalau Filmnya cukuplah di Divergent dan Insurgent.
    Jadi, saya gak akan tertarik pada Film berikutnya di tahun 2016. Bahkan saya khawatir Filmnya balal dipisah menjadi 2 part.

    Sangat berguna...

    BalasHapus
  3. Hmmm menurut saya dystopia yang bagus memang hungers game
    Visit juga www.ihsandonesian.blogspot.com :)

    BalasHapus
  4. Sependapat sama admin.. dan terimakasih menyebutkan "gone girl"

    BalasHapus
  5. Yg buat blog ini keren,
    Paham betul masalah novel n maknanya.
    Selama ini saya cuman liat filmnya saja, ga sejauh pemikiran mbak lina ini, siiip mbak lina.

    BalasHapus
  6. Yg buat blog ini keren,
    Paham betul masalah novel n maknanya.
    Selama ini saya cuman liat filmnya saja, ga sejauh pemikiran mbak lina ini, siiip mbak lina.

    BalasHapus
  7. Emang bingungin banget crtanya. Muter2 dan ngga jelas...

    BalasHapus
  8. Stuju babget klo die as hero d ptolomy gate emang keren. Mantap review nya.

    BalasHapus
  9. Betul. Awal mula saya melihat divergent saya langsung ingat sama asrama di Harry Potter. Tapi mengambil keputusan Tris mati itu bisa dikatakan hal paling berani dan bodoh yang dilakukan oleh Veronica Roth.
    Sejujurnya lebih kepada veroniva roth sendiri seperti depresi mengakhiri / menulis buku ketiga nya ini bisa dilihat dari plotnya yang acakan dan sok berani. Terlalu konyol sebenernya melanjutkan peperangan yang sejatinya sudah tidak terlalu over dan gak tau kenapa di bagian kematian Tris seperti sengaja dibuat. Kita sendiri pun yang baca gak dibuat kaget atau pilu Tris mati. Hanya sekedar berseru "yah, mati". 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya itu lebih logis, tentu saja kalau di tembak itu mati, kalau tidak mati itu seperti dipaksa-paksakan sok kuat karena tris juga merupakan wanita biasa bukan manusia super. justru ini membuat novelnya berbeda dari yang lain yang memiliki happy ever after. itu menurut saya. salut kepada roth

      Hapus
    2. Banyak novel kok yg endingnya sad atau tragic. Banyak. Yang saya bahas di sini bukan sad atau happy ending, tapi eksekusinya.

      Hapus
  10. Baru lihat filmnya allegent part 1 bosan banget

    BalasHapus
  11. Baru lihat filmnya allegent part 1 bosan banget

    BalasHapus
  12. saran ya, kalo baca satu novel fokuskan ke cerita itu dan jangan menyama-nyamakan dengan novel lain. kalau saya yang menjadi authornya tentu akan sakit hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bahas ceritanya kok. Comparison itu ada karena saya pernah baca buku cerita lain yang eksekusi ending & POV-nya lebih baik saja menurut saya. Jadi mau nggak mau, saya sudah punya standar. Coba baca review lain di goodreads itu banyak yang lebih nyelekit dari ini. Kalau saya jadi penulisnya, saya akan rendah hati menjadikan pembelajaran untuk lebih baik di karya selanjutnya.

      Hapus
    2. Penulisnya pun pernah mengakui dalam suatu interview dia memang terinspirasi adegan topi seleksi di Harry Potter. Dan pesan moral dari Divergent itu dimaksudkan supaya orang punya pendiriannya sendiri terlepas bagaimana lingkungan mempengaruhi orang itu. Kalau memang penasaran, gabung diskusinya saja di goodreads.

      Hapus
  13. mbaknya baca insurgent atau divergent gak sih? kok kesannya kayak gak menguasai cerita ya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. baca mbak, coba saja cari reviewnya. Soal review kan itu opini saya yah terserah saya, ini juga blog saya. Kita kan demokrasi jadi bebas mengutarakan pendapat. Saya nggak melarang atau menghina pendapat orang lain yang suka novel ini kok.

      Hapus
  14. Mungkin kalo ada fans Divergent series/Veronica Roth yg sangat "militan" pasti bakal gak setuju sama review di blog ini,jujur saya mengikuti novel ini dan sangat menyukai, tp menurut saya memang betul seri allegiant ini kurang berkesan apalagi film nya yang jelas 180 derajat beda alur ceritanya. divergent & Insurgent sih menurut saya yg punya banyak point penting untuk alur ceritanya begitu juga pesan moralnya.

    btw...
    blognya bagus sekali mba Lina,
    sukses buat mba Lina...

    BalasHapus
  15. Tapi menurut saya pribadi jauh lebih seru The Maze Runner drpd divergent series & hunger games.

    BalasHapus
  16. Saya baca trilogi ini secara maraton. Endingnya memang mengecewakan, bukan karena sad ending tapi menurut saya kok kayak maksa gitu matinya. Setuju sama review ini. Waktu baca juga sempet mikir, penulisnya kayaknya kurang fokus sama inti permasalahannya. Konflik batin lebih banyak porsinya.

    BalasHapus
  17. Saya baca trilogi ini secara maraton. Endingnya memang mengecewakan, bukan karena sad ending tapi menurut saya kok kayak maksa gitu matinya. Setuju sama review ini. Waktu baca juga sempet mikir, penulisnya kayaknya kurang fokus sama inti permasalahannya. Konflik batin lebih banyak porsinya.

    BalasHapus
  18. nice review. aku sependapat klo ceritanya agak2 gimana gtu dan bahkan menurutku dari awal trilogy ini udh gak sreg di hati aku. ceritanya kurang ngalir aja.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...